Friday, 4 April 2014

Hal Paling Gila

Ada satu hal yang perlu kamu pahami ; kamu adalah hal paling gila yang pernah aku temui. Sampai aku nyaris menjadi gila karena terlalu menggilaimu. Coba lihat diluar sana. Ada berbagai macam tipe wanita menarik yang menggilaimu. Mungkin mereka lebih gila. Meski aku mengklaim diriku sebagai yang paling gila. Ditambah lagi soal statusku dengan kamu yang mempergila keadaan.  Soal masa laluku dan masa lalumu yang membuat semuanya serba gila dan mempergila semuanya.

Dan ternyata, masih banyak perasaan gila lainnya sebagai hasil menggilaimu. Aku mulai gila dengan cemburu. Aku mulai gila dan terlarut dalam rasa takut, sedih, amarah, kecewa.  Dan satu atau tambahan dua perasaan gila lain mungkin akan menjadikanku benar-benar gila.

Saat ini, kegilaan itu semakin menjadi dengan rasa cemburu luar biasa. Rasa takut kehilangan paling gila yang pernah aku rasakan. Bagaimana bisa aku bertahan dengan seseorang yang memiliki posisi jauh diatasku? Seseorang yang memiliki pesona lebih dari magnet yang berdampingan dengan wanita kecil tanpa ‘apa-apa’.  Aku sudra dan kamu brahmana. Aku bisa apa selain menangisi kondisi amat sangat signifikan ini?

Tolong baca ini baik-baik, Tuan.

Dari sekian banyaknya wanita yang menggilaimu. Aku termasuk didalamnya. Dan jika kamu ingin menyandingkan rasa gilaku dengan rasa gila kepunyaan wanita lain. Mungkin aku paling gila. Aku paling jatuh sejatuh-jatuhnya. Entah apa yang harus aku lakukan selain menikmati kegilaan ini. Aku butuh, rumah sakit jiwa. Dan itu, kamu.

Sepertinya seiring dengan tulisan ini aku sudah sah menjadi gila dengan menyebutmu rumah sakit jiwa. Padahal sudah jelas bahwa kamu ibarat brahmana yang memiliki segalanya. Mungkin akan lebih tepat jika kharisma tingkat brahmanamu itu membuat banyak wanita menjadi benar sakit jiwa. Aku harap kamupun tak ikut-ikutan menjadi gila dengan menggilai semua wanita. Dan aku harap aku menemukan obat gila paling liar. Untuk meredakan kegilaanku yang semakin liar.

Friday, 13 September 2013

Di Balik Jendela


Kami berdua. Menyeruput segelas lemon tea hangat. Diiringi dengan percakapan dan gurauan manis. Sesekali matanya melihat ke arah jendela kaca berukuran raksasa. Menatap pemandangan sudut-sudut kota yang terlihat buram karna diguyur air hujan. 
"Sayang". Ucapnya.
"Ya?" jawabku.
"Aku pengen nanti kita punya rumah di tempat sejuk dan berkabut"
"Kayak Forks gitu?"
"Forks? Garpu?." Tanyanya dengan raut muka keheranan.
"Bukan sayang.. itu salah satu village di Amerika. Yang difilm Twilight itu loh" 
"Oww.. Aku kan gak pernah nonton Twilight"
"Padahal kan filmnya seru. Ada Robert Pattinsonnya." 
"Oh.. kenapa memangnya?"     
"Dia ganteng dan cool banget!." Jawabku dengan penuh semangat.
Dengan air muka sedikit kesal dia menjawab "Gantengan juga aku." Aku sedikit tersenyum simpul. "Iyaa deh, kamu yang paling ganteng. Oke, kembali ke topik. Jadi kenapa pengen punya rumah didaerah sejuk dan berkabut?"
"Berseni. Aku bisa melukis dengan tenang. Dan pasti penuh dengan inspirasi." 
"Oww.. begitu. Jadi nanti kamu mau melukis aku?"
Dia tersenyum. "Sekarang juga boleh.." Pipiku memerah. Aku menyeruput lemon tea hangat yang hampir dingin. Lalu aku melihatnya lagi sedang menatap keluar sana. Pemandangan yang semakin buram dibalik jendela yang berembun.

Bima. Namanya mirip dengan galaksi yang kita tempati; Bima Sakti. Tapi, nama kepanjangannya bukan sakti. Dia tak memiliki nama akhir. Hanya Bima. Seorang lelaki yang nyaris sempurna untuk aku yang tidak sempurna. Kami adalah korban dari peristiwa sahabat jadi cinta. Meski saat ini status aku dan Bima berpacaran tapi kami tetap menjalin persahabatan didalam hubungan spesial kami. Dan hubungan itu telah berlangsung 3 tahun menuju 4 tahun. 
Dia masih membiarkan matanya tertuju pada pemandangan buram didepannya. Sementara aku sibuk memerhatikan detail-detail wajahnya yang indah. Dia tampan, senyumnya manis. Hidungnya sedikit mancung mendekati besar. Sama besar dengan keinginannya menjadi pelukis kondang yang profesional. Dan aku adalah pecinta paling setia terhadap semua karyanya. Aku selalu membayangkan jika suatu hari nanti kami dapat meraih semua mimpi yang telah kami ukir. Menjadi manusia dengan impian-impiannya yang menjadi nyata. Siapa yang tidak bahagia?

Aku menyeruput lemon tea yang kini telah menjadi benar-benar dingin. Bima mengalihkan pandangannya kepadaku. Menatapku lekat-lekat. Aku sedikit salah tingkah tapi aku berusaha menutupinya.
"Sayang, lemon teanya udah dingin. Minum gih nanti gaenak." Ucapku santai. Dia tersenyum, sedikit cengegesan. "Kamu lucu." ucapnya singkat. "Lucu?." Tanyaku heran. "Iya, kamu gak bisa nutupin kalo lagi salah tingkah, sayang. Kita udah hampir 4 tahun sama-sama. Jadi.." sebelum Bima melanjutkan aku memotong kalimatnya "Jadi.. aku udah kenal kamu." Gelak tawa kecil terdengar renyah ditelinga kami. Rasanya semakin hangat. Dia menyeruput teh lemonnya. Dan lagi.. dia menatap ke arahku. Kali ini sedikit lebih serius.
"Alia.." sahutnya sedikit lirih.
"Kenapa sayang?"
"Maafin aku"
"Maaf kenapa?"
"Aku belum bisa bahagiain kamu sepenuhnya"
Aku tersenyum. Menyimpan sedikit jeda diantara percakapan kami yang mulai intim. "Kamu gak perlu minta maaf, sayang." ucapku melanjutkan. Dia terdiam sedikit menunduk. Kedua tangannya menjulur diatas meja. "Aku bahagia sama kamu. Dan dengan keadaan seperti inipun aku bahagia." Aku memegang erat kedua tangannya.
Sekarang dia meluruskan pandangannya. Membalas genggamanku dengan sangat erat.
"I love you"
"I love you too." Moment ini sejujurnya sedikit mengharukan. Tapi aku tak ingin ada air mata didalam pertemuan kami. Aku dan Bima menikmati waktu masing-masing saat ini. Termenung sesaat. Aku melihat ke arah jendela. Menikmati hujan dan keheningan sementara. Detik jam terus bergulir, keadaan semakin membeku. Sudah lima belas menit kami mengunci pembicaraan. Sampai akhirnya aku melihat bibirnya melontarkan sebuah kalimat.
"Bisakah kamu menutup matamu sebentar, Tuan Putri?" Ucapnya hangat. Mencairkan keadaan yang sempat membeku.
"Untuk apa?"
"Just close your eyes, honey"
"Hmm.. well.." Aku menutup kedua mataku.
"But, first.. you must promise me that you won't cheating"
"Iya sayaang." Aku masih menutup mataku. Pikiranku bekerja. Menerka-nerka apa yang hendak dilakukan oleh Bima. Tapi aku tetap pasrah pada keadaan sambil menunggunya mengucapkan aba-aba konfirmasi untuk acara pembukaan kedua mata.

Udara dingin semakin terasa. Ini pasti karena angin yang masuk melalui ventilasi diatas jendela sana. Aku memeluk badanku dengan kedua tangan. Suara rintik hujan menghiasi pendengaranku sehingga suara kasrak-kusruk yang ditimbulkan dari Bima tidak terdengar dengan jelas. Aku semakin penasaran dan menerka-nerka. Tapi aku pasrah saja. Sampai akhirnya..."Now, open your eyes." Mulutku sedikit ternganga. Mataku dengan jelas melihat pemandangan paling mengharukan yang pernah kulihat. Lukisan dibalik kaca dalam yang berembun. Menggambarkan seorang pria yang sedang mempersembahkan sebuah cincin kepada wanita  yang duduk didepannya. Selagi aku tertegun dengan lukisan instan yang mengagumkan itu. Tiba-tiba aku mendapati Bima berlutut dibawahku, mempersembahkan sebuah cincin persis seperti gambar yang baru saja dia lukis di jendela kaca yang berembun sambil berkata "Will you marry me?." Terharu. Aku menitikkan air mata dengan satu tangan menutup mulutku yang sedikit menganga. Sebuah anggukan mantap dariku menandai jawaban konfirmasi untuknya.
Lalu Bima meraih tanganku dan memasukkan sebuah cincin emas putih dengan bagian permata cantik ditengahnya ke dalam jari manisku. Lalu aku memeluknya. Masih dengan berlinang air mata. Bima membalas pelukanku dan mengusap jejak air mata di pipiku. 
"Jadi, kapan kita akan menikah?."
"Secepatnya." Jawabku.
Begitulah sore itu berjalan. Dibalik jendela yang berembun. Dengan hujan dan juga cinta.

Sunday, 8 September 2013

You Make My Dream Comes True [Video]


Gak sengaja bikin ini. Awalnya karna kangen sama pacar. Jadi aja gini. 
Ahaha just for fun! :D

Sunday, 18 August 2013

Cinta Tak Beralasan

  Diawali dengan cerita-cerita sederhana melalui pesan singkat. Lalu menjadi kebiasaan rutin yang sering kami lakukan. Kini, dia adalah tempat curahan hatiku. Semakin hari kegiatan berbagi cerita yang sering kami lakukan berubah menjadi kedekatan yang tak biasa. Awalnya aku bersih keras menyangkal perasaan yang tidak biasa ini menjadi biasa saja. Karna aku tau, dia hanya menganggapku sebagai teman. Aku memendam dan terus mengelak perasaanku sampai suatu hari aku tersadar bahwa aku benar menyimpan perasaan yang tidak biasa;cinta.

  Aku tak berani mengungkapkan perasaanku. Aku hanya membuatnya mengalir seperti air. Bercerita satu sama lain disetiap malamku dengannya, tetap terjaga diatas perasaan yang tak biasa. Terkadang aku ingin sekali memberitahunya tentang perasaanku. Tapi, aku takut semuanya menjadi berjarak. Aku takut dia tak memiliki perasaan yang sama.

  Berbulan-bulan setelah aku mengetahui pasti mengenai perasaanku, aku dan dia tetap sama. Dalam rutinitas yang sama. Dalam status yang sama;teman. Perasaanku semakin tak menentu. Aku hanya bisa mengungkapkannya diatas kertas putih dan membacanya sendirian. Miris. Lama kelamaan dalam keadaan yang tetap tak berubah. Aku terbiasa dengan memendam. Aku tersadar bahwa yang terbaik untuk kami adalah hanya menjadi teman. Dan aku hanya bisa menerima kenyataan. 

  Suatu saat, hubungan kami merenggang. Entah dengan alasan apa, kami menjauh. Aku membiarkan moment ini untuk memulihkan perasaanku menjadi biasa saja. Sampai pada akhirnya aku bertemu dengan sosok pria lain yang kini menjadi pangeran dalam hidupku;Angga. Aku sama sekali tak mengira bahwa Angga akan datang ke kehidupanku. Diluar penalaran dan juga perhitunganku. Aku masih tidak percaya akan sosoknya yang kini menjadi nyata dihadapanku. Sepertinya, kata demi kata tak mampu mengungkapkan apa yang aku rasakan. Seperti cinta yang tak beralasan, aku tak bisa menjelaskan. Yang aku tahu, aku mencintai sosoknya yang baru. Aku mencintai Angga tanpa ingin mensia-siakannya.

Friday, 16 August 2013

Kaangeeen!!

''Aku kaangeen!!'' teriakku melepas emosi yang sudah tak tertahan sedari tadi. Aku kangen cara dia menatapku. Cara dia mengajakku bercanda, bertanya dan memperhatikanku. Rasanya aku ingin segera bertemu dan memeluknya lama-lama. Menikmati segera kerinduan yang sedang terpendam meski hanya beberapa minggu. Tapi rasanya seperti sudah bertahun-tahun. Ini bukan tulisan pleonasme tapi mungkin perasaanku saja yang hiperbola. Tapi ini serius, aku sudah tidak sabar untuk dapat mengenggam jemari-jemarinya dengan erat. Menatap matanya lama-lama. Mendengar tawa khasnya. Dan memperhatikan setiap gerak-gerik tubuhnya.

Rasanya, saat rindu melanda seperti ini. Bayangannya tak bisa lepas dari pikiranku. Seperti magnet. Yang kedua kutubnya selalu bersatu. Meski aku sudah berusaha mengalihkan perasaanku dengan melakukan hal lain. Tetap saja, sosokmu masih nakal mempermainkan otakku. Rasanya aku gemas sekali untuk dapat segera melihatmu.

Tapi, malam ini. Aku hanya bisa menikmati kerinduanku yang masih menggebu karna belum dapat bertemu. Tapi tak apa, selama aku masih bisa mengirim pesan teks berisi kerinduan dan kata-kata manis. Semuanya masih terasa adil dan protagonis. Lagi pula pertemuan yang ditunda karna jarak dan waktu lebih bersensasi dibanding rindu lalu langsung bertemu.

Aku yakin pertemuan yang selalu tertahan secara berulang-ulang. Akan menjadi pertemuan setiap pagiku denganmu nanti. Saat kita terbangun dipagi hari. Dibawah atap yang sama. Diatas rindu yang sama. Aku bisa menanti sampai saatnya tiba.

Wednesday, 5 June 2013

Helena


Helena was be created as a silent girl. She does not belong to anybody. But she never feels lonely. Conversely, she loves quiet. Enjoys the wind, the nature and walks by her foot step by step pass over the road. She attends people. Interaction, conversation, those all things make her feel quiet and peace. 
''People help the people'' she said. ''and i'm just here, keeping myself alone, waiting and looking around''
God always know what’s hidden by people. And she was hiding herself from the crowd. Ignoring the lie and the drama. She was too tired by falsity. Falsity of the past, exactly. ''People may assume me as a coward. And they will never get to know me more. How's the pain, how's the scared''. People just judge. And it's called as our society.
*** 
Helena likes purple. She's cheerful, but it was years ago. When everything felt like easy and joyful. She opened herself to everybody. Smiled and friendly. Those were her, in ages  
Since her parents died in a car accident. Everything seemed hard and dark. No cheer no smile. There was just terrible anguish.
June, 5th. 2003
''Live life, that's a bullshit. I have nothing here. Everything went away from me. Why should I be alive? For begging some happiness?'' she grumbled
''My dear, Helena. When people were given a grief, there's always the replacement. A better replacement. God is fair'' Mrs. Dolores was trying to calm her down.
''No, God is unfair!!''
''God is fair, Helena. People have destiny. It is a fate for human being. Trust me that someday you'll get dozens of happiness. Learn to be able to accept
''But...'' Mrs. Dolores moved towards to Helena.
''Accept, believe and be strong. Okay?'' 
''Yes, Mrs. Dolores''
''You promise not to get mad again, dear?''
''Yes''
"Oww by the way, happy birthday! Happy 12 years old, Helena'' Mrs. Dolores gave a teddy bear for Helena.
''Thanks Mrs.Dolores. You're so kind'' Helena smiled and looked happy with her new teddy bear. 
***
Helena, 17 years old
Day after day passed by me. My life gets better. Five years after my little conversation with Mrs.Dolores. I still have her teddy bear and hug it every night when i start to fall asleep. Now i'm seventeen. I'm growing up. That's should be a natural thing. Accept, believe and be strong. That's the key. The pain almost healed. And it's so far better since i found Henry in my life. He always supports me. He always there beside me. And he is the first one I love. And i hope he will be my first and last love for me. He's the reason why i stay here. He is.. My daydream about future. 
Do you ever feel like really fall in love with someone? 
How someone be the most important thing in your life. And i dont wanna lose him. I give my faith, my life, my trust and my love for him. And only him.. I swear.
***
4 years later..
''Please Henry, don't let me go'' Helena cried
''I swear Helena, i won't let you go. But my parents force me to marry Sharon''
''Prove me you love me''
''No, Helena. It's hard. I can't.”
''Then, you don't love me''
''Yeah'' Helena surprised by the answer.
''Unbelievable, you lie! You are terrible liar! It's been 4 years we are together. There’s so many things that we’ve been through. Why are you so easily break all those things? It's not as easy as you imagine. Henry, i love you. Please stay with me''
''No, Helena'' Henry tried to leave. But Helena stopped his step
''Henry, tell me. What is so great about her?''
There was no answer from Henry. Just a quiet moment.
''I try to defend our relationship. And what is it mean for you?'' Helena showed her ring on her finger. ''Don't you remember the moment when you give this to me and you said marry me?'' Henry just stood still with no words.
''This is difficult to put an end to our relationship. It's closer to our marriage. Please, wake up!''
''No, Helena. It's over!!'' Henry snapped. That was the second answer that surprised me.
''It's ridiculous! You come and say ''it's over'' suddenly with no reason and you are going to marry a girl that you knew for a month?''
''Yes..''
''Is that your answer?''
''Yes. Helena''
''I know you are insane'' Helena took off her ring and threw it into Henry's face. Then she walked  away in front of him. Hoped he’d stop her. But in fact, he didn’t.
Since that day Helena cried every night. Waited for him to apologize. But he never came. It made more painful to her. What do you feel when a half of your soul left you with a million memories?
***
Helena.
June 5th 2013 
Long time ago i was a little kid who assumed God is unfair. Now i know everybody has their own destiny. And it was given by The Lord. There's happiness inside the sadness. Although I haven’t found mine yet. Life teach me how to accept the truth. And the truth makes me stronger and stronger each day. I’m full- grown now, I can face my own problem in the past. 
Sometimes I feel numb, and empty like I have no sense at all. Live as an orphan in the orphanage makes me despair. The pain is still real even too real. But i can handle it. I give my best regards to my parents over there. Every night, every morning, everyday i pray for them. The car accident and the betrayal were never be forgotten. I've learned to live life. I always remember what Mrs.Dolores said. A woman who replace my parents position as a caretaker. Accept, believe and be strong.
"Helena.." An old woman with wheelchair  leads towards me.
"Mrs.Dolores.."
"Happy birthday!" The old woman speaks haltingly. I melt, and  i wanna hug her tight. She’s always been the only one who remembers my birthday each year
"Thank you so much Mrs. Dolores" 
"Ouuhh, don't cry sweetheart and always remember..."
"Accept, believe and be strong" I cut her sentence before she continues her conversation. 
"Aha.. that's right, dear. Here's your gift. Open it"
I open the gift, an elegant wedding gown looks very interesting. 
"Thanks. It's beautiful" I said
"I want to see you being happy in this gown someday, dear" Mrs. Dolores strokes my cheek, looks into my eyes for a while. Then, she goes on her wheelchair. I am holding the gown, enjoying the silence.  I remember when Henry left me. I swear, I’m not gonna make the same mistake again, trusting the wrong guy. I'll never disappear for my happiness. That's why i'm here. Waiting for the right person.

Thanks for reading.
Writer : @Listarani
Editor : @ghnfiani

Tuesday, 28 May 2013

Firasat


Beberapa orang percaya pada logika. Beberapa orang percaya pada firasat. Dan beberapa orang juga percaya pada keduanya. Logika dan firasat memang memiliki posisi yang sama pentingnya. Tapi Alia lebih memercayakan dirinya pada firasat. Dan firasat itu yang selalu membawa ingatannya pada Febrian. Firasatnya berkata bahwa sesosok lelaki manis sedang berjuang diluar sana untuk meminangnya. Dan Alia tahu bahwa lelaki dalam penantiannya itupun akan segera datang. Empat tahun mengunci hati demi sang pujaan hati. Alia menutup diri untuk siapapun itu lelaki yang datang padanya. Katanya, cinta sejati butuh penantian tak hanya menunggu, kesetiaanpun teruji disini. Alia selalu menanti kabarnya setiap hari dan selalu mengirimi surat untuk memastikan kabarnya. Meski hanya ada 4 buah surat balasan dalam 4 tahun. Alia tahu, bahwa Febrian akan segera datang. Ada beberapa kutipan surat yang selalu Alia ingat "Alia sayang, kepergianku tak akan berakhir menjadi kepergian yang abadi. Aku akan kembali untuk kebahagiaanku juga kebahagiaanmu". Dalam 4 tahun, lelaki itu hanya hidup dalam bayangannya. Tak jarang Alia mengharapkan kedatangannya dalam jangka waktu 3 bulan sekali. Tapi.. 4 tahun itu membuat dirinya benar-benar tak merasakan sosok Febrian disini. Dalam nyata, tak hanya mimpi atau bayang-bayang senja. Terkadang sosoknya yang mulai kabur membuat Alia jera dan putus asa. Akankah semua penantiannya berakhir pada pertemuan abadi yang akan membawanya pada pelaminan nanti ? 

***

Awan senja itu membentuk sebuah senyuman. Alia memerhatikan awan itu sampai angin membuyarkan bentuknya. Terpecah dan memisah bersama atmosfir-atmosfir langit. Desau angin meriuhkan suasana. Pohon-pohon itu bergerak kesana-kemari terbawa angin yang kencang. Daun-daunnya berguguran. Serbuk sari bunga-bunga matahari yang ada didepannya beterbangan. Alia masih setia berdiri ditemani alam yang sedang sibuk berekspresi. Langitnya menjadi merah, karna sang bola raksasa sudah mulai lelah. Ini waktunya untuk beristirahat karna tugasnya sudah selesai. Beberapa jam lagi sang bulan akan menggantikan posisinya untuk shift di malam hari. Tentunya untuk menjaga bumi agar tetap terang. 
"Aku ingin melihat matahari terbenam" ucap Alia pelan. Gravitasi membuatnya tetap berdiam di tempat. Memang, yang dilakukan Alia selalu berdiam. Tak berani untuk berpindah tapi berani untuk diam dan tetap tinggal pada sesosok pria yang sangat dicintainya. Banyak orang menyebut bahwa diam itu emas. Dan Alia percaya. Diam tak berarti tak melakukan sesuatu. Dan menunggu adalah sesuatu.
" Untuk Febrian dan untuk berapa lamapun jangka waktu yang diberikannya untukku. Aku akan tetap disini" 
Untuk seseorang yang sangat berarti, apapun rela dilakukan demi menjemput bahagia. Karna tak ada alasan untuk berhenti mencintai. Jika setia adalah pilihan dan pilihan terakhir adalah untuk setia mendampinginya dalam ada dan ketiadaan raganya. Alia akan tetap setia menunggu. Karna tak ada hal yang benar-benar mampu membuat Alia pergi dan berpaling dari Febrian. 
"Jika kekuatan cinta itu benar-benar ada. Dan kemampuanku untuk tetap menantimu. Mengapa saat ini sosokmu begitu banyak merasuki pikiranku?
Aku bahkan sangat mengkhawatirkanmu. Entah, mengapa rasa ini begitu tercampur aduk sehingga aku sulit untuk mengartikannya."
Air matanya mengalir, Alia berlari menuju hamparan bunga matahari. Hanya hamparan bunga-bunga cantik yang berwarna kuning dengan jumlah yang sangat banyak yang dapat dilihatnya sekarang. Bunga matahari itu semakin cantik ketika hembusan angin datang dan membuatnya menari-nari. Seolah-olah bunga-bunga itu sedang mengadakan konser istimewa untuk menghibur hati Alia yang sedang runyam. Alia tersenyum. Memperhatikan gerak-gerik bunga-bunga itu sambil menikmati setiap hembusan angin yang datang. Desau anginnya terdengar begitu riuh dan menyejukkan suasana. Alia menarik nafas dalam-dalam. Mencoba menenangkan hati dan perasaannya. Perlahan awan-awan dilangit berubah menjadi hitam. Pertanda alam akan menurunkan ribuan pasukan air untuk dijatuhkan ke bumi. Rintik-rintik hujan mulai membasahi pipi Alia. Menghapus jejak-jejak air mata pada wajahnya. 
" Febrian, aku sangat merindukanmu. Tidakkah kamu merasakan hal yang sama sepertiku? Lantas, jika iya, mengapa kamu tak kunjung datang dalam jangkauan pandanganku saat ini?"
Kata orang apapun yang kita lakukan pasti akan ada hasilnya. Dan Alia tetap pada pilihannya untuk menunggu Febrian. Karna ia yakin bahwa penantiaannya tak akan berakhir pada kekosongan. Alia percaya, firasatnya pasti benar dan tak hanya menjadi pertanda alam yang menggantungkan harapan. 
"Aku ingin kamu segera pulang.." Ucap Alia pelan. Dan tiba-tiba sebuah pelukan erat mendekap Alia dari arah belakang.
"Dan aku pulang.." Alia menghujam, terdiam sejenak lalu membalikkan tubuhnya. 
"Febrian.." Alia tak kuasa menahan air matanya dan langsung memeluk tubuh lelaki yang selama ini ia tunggu itu dengan sangat erat. Febrian membalas pelukannya. Mereka berpelukan ditengah hujan yang membasahi tubuh mereka berdua.
"Aku tau kamu akan kembali" 
"Tentu saja aku akan kembali untuk perempuan yang akan menjadi pendamping masa depanku" Febrian menghapus air mata Alia. Namun rintik hujan yang turun membuat Alia seolah tetap berair mata.
"Untuk membayar penantianmu, maukah Nona Alia Permata menjadi istriku?"
Sebuah anggukan pelan dari Alia menandakan penerimaan untuk Febrian. Kebahagiaan terlukis diatas air muka Alia. Memang benar kata orang, setiap usaha yang dilakukan tak akan pernah menjadi sia-sia. Dan kini Alia sadari semua firasat itu berasal dari Febrian.